Minggu, 13 Maret 2016

Memahami Perbedaan Makna Khalaqa & Ja'ala

Dalam Al-qur'an redaksi kalimat tuk menjelaskan tentang proses penciptaan, sering menggunakan redaksi kata  جَعَلَ   dan  خَلَقَ . Dua redaksi kalimat tadi dalam Al-qur’an selalu disandingkan dengan proses penciptaan alam semesta beserta isinya. Dua kata tadi kalau sepintas memiliki makna yang sama yaitu menciptakan atau mengkreasi atau menjadikan. Tapi kalau diteliti memiliki perbedaaan yang prinsipil dan jelas. Dengan memahami maknanya akan terbuka  fakta-fakta tentang penciptaan Alam semesta yang selama ini belum terungkap. Ini sebagai bahan awal, silahkan sahabat semua teliti dan kaji ayat-ayat qur’an dengan memakai dua redaksi kalimat diatas. Mari kita bahas satu bersatu dan selamat mengkaji:
1. Kata خَلَقَ diartikan sebagai: menumbuhkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya (menciptakan). Secara bahasa, خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) artinya: yang bisa kita sederhanakan menjadi: menciptakan sesuatu sejak semula atau menjadi sebab awal maujudnya sesuatu. Sedangkan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) artinya: yakni membuat sesuatu dalam rangka menyediakan sesuatu itu kepada sesuatu yang lain yang sudah ada sebelumnya. Jadi sama-sama perbuatan mencipta/menjadikan, tetapi bisa kita lihat bahwa perbuatan خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) lebih dahulu daripada perbuatan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan).
Pengurutan ini bisa kita ketemukan di banyak tempat di dalam al-Qur’an; umpamanya:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
[6:1] Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (SURAT AL AN'AAM (Binatang ternak) ayat 1)

Sabtu, 12 Maret 2016

Pentingnya Menjaga Niat

Melakukan kebaikan, hendaknya didasarkan pada niat yang baik pula. Seperti halnya dengan puasa yang kita laksanakan sekarang, kita niatkan untuk mencari ridho Allah.

Tidak hanya itu, apabila kita sudah memiliki niat yang baik, mesti terus kita pertahankan, agar tidak terjadi hal, seperti pada kisah seorang Bani Israil yang alim dan rajin beribadah kepada Allah berikut ini.

Suatu hari ia mendapat laporan, di daerahnya terdapat kaum penyembah pohon. Mendengar hal itu ia segera mengambil kampak dan bergegas untuk menebang pohon itu.

Mengetahui hal itu, Iblis berusaha menghalangi niat orang alim dengan menyamar sebagai orang tua. Di tempat tersebut, Iblis merayu agar ia membatalkan niatnya.

Penyakit Sedih yang Berkepanjangan


“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
(an-Nahl [16]: 127-128)
 
Ketika putra Nabi Muhammad, Ibrahim meninggal dunia, beliau pun bersedih bahkan menangis. Tetapi kesedihan yang terkendali. Sahabat beliau, Abdurahman bin ‘Auf, yang melihat air mata bercucur di pipi beliau lalu bertanya, “Engkau juga wahai Rasul? Yakni menangis seperti manusia yang lain?” Beliau menjawab, “Ini adalah rahmat.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda, “Sesungguhnya mata berlinang, dan sesungguhnya hati haru, namun kita tidak berucap kecuali apa yang diridhai Allah, dan sungguh dengan kepergianmu- wahai anakku- Ibrahim, kami semua bersedih.”

Rabu, 15 Juli 2015

SILSILAH SANAD ULAMA' AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Sayidina Ali
  3. Muhammad (Putra Sayidina Ali, dari istri kedua Kaulah bin Ja’far)
  4. Wasil bin Ato’
  5. Amr bin Ubaid
  6. Ibrohim Annadhom
  7. Abu Huzail Al-Alaq
  8. Abu Hasi Adzuba’i
  9. Abu Ali Adzuba’i
  10. Imam Abu Hasan Al’Asyari (Pendiri Faham “AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH”) Karangannya : Kitab Maqolatul Islamiyin, Al Ibanah, Al Risalah, Al-Luma’, dll

Kamis, 12 Maret 2015

Mush’ab bin Umair, Teladan Bagi Para Pemuda Islam

Masa muda atau usia remaja adalah saat orang-orang mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka. Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.